Kamis, 15 Mei 2014

SEJARAH DESA TONDEI


oleh Ny. A.J. Bujung-Moningka
 
Bagian 1
PENDAHULUAN

ejarah desa Tondei mulai digali dari perbendaharaan masa lalu dan dimunculkan dalam bentuk tulisan pada tahun 1973 oleh Cyrus Bujung, seorang guru Kepala SD GMIM Tondei. Penyusunan pertama ini sangatlah banyak kekurangan disana-sini baik isinya, bahasanya bahkan masih banyak kekaburan dalam uraiannya.
Penyusunan kedua kembali dilakukan tahun 1983. Kekaburan tersebut lebih diperjelas dengan mewawancarai beberapa orang tua yang banyak mengetahui asal usul penduduk mula-mula maupun sejarah pendirian desa.
Penyusunan yang ketiga pada tahun 1985 dan keempat dalam tahun 1989 ini isinya lebih diperkaya dengan peristiwa-peristiwa baru.
Tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti tahun berapakah orang-orang Raanan membuka perkampungan di Mawale, dan tanggal berapakah dalam bulan Agustus tahun 1906 orang-orang Raanan Lama, Raanan Baru, Wanga dan Motoling mendirikan desa Tondei ini.
Keadaan Alam dan Sebagainya
Desa Tondei terletak di lembah yang diapit dua oleh gunung, yaitu gunung Lolombulan di sebelah timur dan gunung Sinonsayang di sebelah barat, kira-kira 9 Km dari pantai. Oleh karena letaknya demikian, maka pada waktu tertentu silih berganti berhembus angin pegunungan dan angin laut. Sebagian besar wilayahnya adalah lahan perkebunan yang didominasi oleh tanaman cengkih dan kelapa. Kedua jenis komoditi ini sangat baik pertumbuhannya karena iklimnya sangat cocok untuk tanaman perkebunan secara umum. Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk maka terjadi alih fungsi lahan dari lahan hutan menjadi lahan perkebunan sehingga sekarang ini, luas lahan hutan makin berkurang. Penebangan liar umumnya untuk pembuatan rumah sendiri dan untuk dijual.
Desa Tondei terletak di suatu lembah yang diapit oleh gunung Lolombulan dan Sinonsayang dengan ketinggian kurang lebih 400 meter di atas permukaan laut (dpl). Oleh karena letaknya yang demikian, maka pada waktu tertentu, silih berganti berembus angin pegunungan dan angin laut. Pada musim kemarau suhu udaranya mencapai 26 derajat Celsius dan pada musim hujan suhunya menurun sampai 20 derajat Celsius.
Keadaan tanahnya sangat subur dan sangat baik bagi tanaman perkebunan dan pertanian. Luas  pemukiman desa ini kurang lebih 1 km2 sedang luas wilayahnya kurang lebih 10 km2. Pada sebelah utara berbatasan dengan wilayah desa Ongkau dan Tiniawangko, sebelah timur dengan gunung Lolombulan, sebelah selatan dengan wilayah desa Raanan Baru dan pada sebelah barat dengan gunung Sinonsayang. Kedudukan desa Tondei sendiri sebagian agak landai, sebagian pula agak datar. Bagian yang agak landai, disebut “kampung gunung”, sedang bagian yang datar disebut “kampung liba”.
Kira-kira 1 km sebelah utara desa ini pada jalan menuju Ongkau dan Tiniawangko terdapat satu perkampungan yang baru dengan nama Lumopa. Kadang-kadang juga disebut dengan Lopana.
Tondei umumnya, terletak kurang lebih 400 m dpl. Pada sebelah timur berdiri megah gunung Lolombulan dan perbukitan Kantil, sebelah barat gunung Sinonsayang dengan perbukitan Tukadia, Munte, Torosit, Kelemur, ke sebelah utara dengan perbukitan Paembongan, Pakuntungan dan Pondos.
Di sebelah utara mengalir anak sungai Tondei, lebih ke utara timur laut mengalir sungai Wawa, Kaluntai Kecil, Aser, Kaluntai Wangko, dan Kokitong. Di sebelah timur mengalir sungai Raanan, di sebelah selatan juga sungai Raanan, sungai Suka, Komanga’ang, Neang, sedangkan di sebelah barat mengalir sungai Raringis.
Hutan-hutan besar terdapat di lereng gunung Lolombulan dan Sinonsayang yang dihuni oleh beraneka ragam jenis binatang antara lain yaki (monyet yang tidak berekor), sapi hutan (anoa), babi hutan (kalowatan), rusa, ular sawah, burung enggang dan sebagainya. (sekarang ini sulit untuk ditemukan jenis binatang seperti itu (Orang Tondei suka menkonsumsinya). Sapi hutan dan rusa merupakan binatang yang sudah kurang jumlahnya alias langkah, sehingga sangat perlu dilindungi dari kepunahan.
Keadaan pada masa pra sejarah tidak banyak diketahui orang. Konon daerah ini merupaka lalulintas pahlawan-pahlawan Tontemboan yang pergi ke Poigar dan Mariri, wilayah kerajaan Bolaang Mongondow untuk bertempur sewaktu berkobar perang antar Tontemboan dan Bolaang Mongondow. Setelah perang selesai, banyak diantara pahlawan-pahlawan itu menetap di Mariri, Daerah Bolaang Mongondow. Keturunan mereka sekarang mendiami desa Mariri, Mariri Baru dan tetap berbahasa Tontemboan.
Tetapi sebagian dari pahlawan-pahlawan itu kembali ke Tompaso Lama, negeri asal mereka.  Dalam perjalanan kembali itu, banyak pula diantara mereka yang singgah dan menetap di Tondei, di tempat yang bernama Mawale sekarang.  Mawale menjadi tempat singgah orang orang yang dari Mariri yang pergi ke Tompaso dan sebaliknya. Lama kelamaan bertambah banyaklah orang yang tinggal di situ. Mereka dinamai “orang Raanan”, sesuai dengan nama sungai yang mengalir di sebelah timur desa Tondei sekarang. Arti nama Raanan tidak diketahui orang dengan pasti karena nama itu berasal dari bahasa Mongondow.
Hampir semua nama sungai di sekitar desa Tondei berasal dari bahasa Mongondow misalnya Neang, Suka, Komangaang, Kaluntai, dan Aser. Hal ini merupakan suatu kenyataan bahwa daerah ini pernah dihuni atau dimiliki oleh suku Bolaang  di masa lalu. Menurut cerita tua, bahwa dahulu seorang raja Bolaang yang ibunya seorang putri Minahasa, meminang seorang putri Tontemboan asal Tombasian. Raja yang bernama Damapolii memberi mas kawin kepada suku Tontemboan yakni daerah antara sungai Ranoiapo sampai sungai Poigar, yang orang Tontemboan, disebut “Lewet”.
Selama Damapolii menjadi raja di Bolaang, tanah Lewet itu tidak diganggu oleh orang Mongondow. Tetapi setelah Damapolii meninggal maka orang Mongondow mau merampas lagi daerah tersebut, maka terjadilah perang antara orang Tontemboan dan orang Bolaang. Pada masa perang itulah orang orang Tompaso Lama, Tombasian dan sekitarnya menyerbu Bolaang sampai ke Mariri dan membersihkan daerah Lewet dari orang-orang Bolaang kecuali di suatu tempat, tepatnya sekarang di desa Torout, Kecamatan Tompasobaru. Itulah sebabnya, nama-nama gunung dan sungai di sekitar Tondei berasal dari bahasa Mongondow.
Adapula yang berpendapat, bahwa kata Raanan berasal dari bahasa Tontemboan. Raanan berasal dari pokok kata “raan” yang artinya padi yang sudah lama disimpan, yang dipanen pada beberapa masa panen yang lalu belum habis terpakai. Hal ini merupakan gambaran tentang kelimpahan pangan yang dinikmati orang-orang Raanan di masa itu.
Kedatangan perampok perampok bangsa Mangindanau yang menculik orang-orang Tontemboan yang dijual di negerinya sebagai budak, ditambah munculnya wabah penyakit yang berbahaya memaksa orang-orang Raanan meninggalkan Mawale dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka pindah ke tempat yang bernama Lutaw yang letaknya kira-kira 100 meter sebelah selatan desa Tondei sekarang, dekat sebuah mata air. Kebenaran dapat dibuktikan dengan adanya sebuah lesung batu  tingginya 1,5 meter yang besar dan tertanam dalam tanah pada dinding luarnya terdapat ukiran pria dan wanita menari. Kemudian disekitar tahun 1987, seorang warga bernama Hideky Lumowa saat menggali tanah untuk dijadikan kolam di tempat yang bernama Sagai, ia menemukan banyak tembikar yang telah hancur. Kelihatan kualitasnya baik, secara kasat mata tembikar tersebut lebih baik kualitasnya dengan tembikar yang dibuat oleh orang Minahasa di masa sekarang. Di tempat tersebut juga ditemukan Peip, (alat tempat tembakau) untuk dihisap. Peip tersebut terbuat dari tanah liat/tembikar yang bagus sekali. Di bagian depan terdapat ukiran timbul motif jangkar. Sayang sekali Peip tersebut hilang begitu saja di rumah keluarga Hideky Lumowa Palapa. Mereka tak dapat tinggal lama di tempat itu karena konon tempat itu cepat diketahui oleh orang orang Mangindanau. Karena gangguan perampok Mangindanau ini maka mereka terpaksa meninggalkan tempat itu. Sebagian orang Raanan ini mengungsi  dan singgah  sementara ke suatu tempat yang yang bernama Rata Laur, daerah yang terletak antara desa Raanan Baru dan desa Malola sekarang, sebagian pula singgah ke Lompad, sebelah barat desa Raanan Baru sekarang, kemudian kedua tempat tersebut ditinggalkan lagi oleh mereka karena kemungkinan menurut petunjuk opo-opo melalui burung manguni tempat tempat itu tidak baik dijadikan kampung. Mereka mencari tempat yang bergunung-gunung dan dikelilingi oleh jurang-jurang, agar terlindung dari ancaman perampok Mangindanau. Sesuai dengan petunjuk opo-opo melalui isyarat burung manguni, tempat itu ditemukan, dan mereka menetap di situ. Tempat itu dinamai Raanan Lama.

Lingkungan Hidup
Sejak berdirinya desa ini hingga akhir tahun 1977, jalan ini sukar dilalui kendaraan bermotor. Ini menyebabkan sukarnya masyarakat Tondei pergi ke pasar untuk mengeluarkan hasil pertanian seperti kopra, gula aren, dan sebagainya ke Motoling dan Ongkau. Sekarang, dengan adanya kegiatan rakyat Tondei dalam memperbaiki jalan antara Tondei dan Raanan Baru, maka kendaraan bermotor sudah boleh memasuki desa Tondei, sekalipun harus mengalami kesulitan juga di waktu musim hujan. Sepanjang 3 km dari Tondei ke Raanan Baru jalan ini melintasi daerah perkembunan orang-orang Tondei, melewati hutan lereng, gunung dengan tebing yang curam di sebelah kiri, sedang di sebelah kanan menganga-ngarai yang dalam, dan 3 km melintasi perkembunan orang-orang Raanan Baru. Sering hubungan antara kedua desa ini terputus akibat tanah longsor, lebih-lebih pada musim hujan. Dapatlah dibayangkan kesulitan yang dihadapi oleh rakyat Tondei dalam masalah transportasi. Setiap hari senin, masyarakat Tondei bersama-sama mengadakan kerja bakti untuk memperbaiki jalan sampai jauh dalam perkebunan orang-orang Raanan Baru. Masyarakat Tondei selalu betanya-tanya bilakah pemerintah ingat akan jalan yang menghubungkan desa Tondei dengan desa Raanan Baru?
Tondei adalah desa penghasil kopra terbesar di kecamatan Motoling, sehingga hal ini membutuhkan jalan yang baik untuk dapat menyalurkan penghasilannya ke pasaran. Dan masyarakat Tondei bukan saja menunggu-nunggu tetapi mereka berusaha dan bekerja.
Desa Tondei juga dihubungkan dengan desa Pantai Ongkau (sekarang desa Ongkaw) dengan sebuah jalan yang panjangnya kurang lebih 9 km. dari desa Ongkau, jalan ini sudah diaspal sepanjang 6 km. Ada tanda-tanda bahwa pengaspalan jalan ini akan mencapai desa Tondei. Jika hal ini menjadi kenyataan, maka masyarakat desa Tondei akan lebih mudah mengangkut hasil petaniaannya dengan kendaraan bermotor ke pasar Ongkau.
Kesehatan
Untuk kepentingan kesehatan dan urusan Keluarga Berencana (KB) oleh PUSKESMAS Motoling telah dibuka di Tondei sebuah Pos Kesehatan yang dipimpin oleh seorang jururawat. Pada akhir tahun 1984 tercatat 99 % dari pasangan usia subur sebagai peserta KB.
Pertanian
Perkembangan di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan agak lamban. Kebanyakkan petani masih merupakan petani alamiah. Karena suburnya tanah pertanian, maka masih jarang orang yang menggunakan pupuk. Kebanyakkan masih mempraktekkan cara-cara tradisional dalam mengelolah tanahnya.
Pada tahun 1980 dan 1981 telah diadakan reboisasi di lereng gunung Kantil sehingga bahaya erosi terhindar, larangan merombak hutan secara liar dipatuhi oleh seluruh masyarakat desa Tondei. Petani-petani Tondei mencurahkan perhatian yang besar pada penanaman kelapa dan cengkih, tetapi kurang perhatian pada bersawah dan berladang. Untunglah pemerintah desa Tondei sekarang giat berusaha menyadarkan dan membimbing rakyat agar bergaiaran menanam tanaman musiman terutama pada tanaman jagung. Salah satu usaha kearah maksud tersebut, pemerintah desa telah membuat satu kebun percontohan dengan kerja sama dengan BLPP Kalasey sebagai Pembina dan pelatih.
Kependudukan
Orang yang lahir di Tondei pertama kali adalah nenek Wongkar Gerung sekitar tahun 1906. Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk di desa Tondei Raya banyak mengalami peningkatan. Berikut ini data mengenai kependudukan
Tahun     906-1908 : ± 200 jiwa
1913 : ± 1000 jiwa
1968 : ± 1800 jiwa
1976 : ± 2200 jiwa
1985 : ± 2600 jiwa
1989 : ± 3000 jiwa


















Bagian 2
AWAL TERBENTUKNYA DESA TONDEI


Text Box: TMawale
idak ada seorangpun yang tahu dengan pasti, bilakah orang-orang Raanan mendirikan perkampungan Mawale yang terletak di sebelah barat desa Tondei sekarang. Namun ada beberapa fakta sejarah  yang dapat dijadikan dasar perkiraan.
Pertama, menurut sejarah Minahasa yang ditulis oleh bapak B. Supit bahwa pada akhir abab ke-17 terjadi perang antara Loloda Mokoagow alias Datuk Binangkang, raja Bolaang Mongondow dan para ukung di Minahasa. Orang-orang Minahasa mengalahkan prajurit-prajurit Loloda, dan memburu mereka sampai ke daerah Bolaang. Penyerbuan kewilayah Bolaang terpaksa dihentikan atas usaha residen Manado waktu itu. Banyak prajurit-prajurit melintasi daerah Mawale ke pertempuran di perbatasan. Mawale menjadi tempat persinggahan mereka, dan ada pula yang menetap. Pada tahun 1694 ditetapkanlah sungai Poigar sebagai batas antara Minahasa dan Bolaang Mongondow. Beralas pada kejadian ini, maka diperkirakan Mawale didirikan antara tahun 1693 dan 1694.
Kedua, dalam tahun 1708 telah terjadi perang antara Walak Kakas dan Walak Sonder. Banyak yang jatuh korban di pihak Walak Sonder. Para taranak Sonder merasa tidak puas terhadap pemimpin Walak lalu mengungsi ke selatan, ke Bolaang, melintasi daerah Mawale. Kemungkinan ada yang singgah dan menetap di sana.
Ketiga, dalam tahun 1764 terjadi perang antara Walak Bantik dan Walak Tombariri .Untuk menghindari pertempuran, banyak yang melarikan diri ke selatan dan diduga banyak dari antara mereka melewati Mawale atau menetap di sana. Sebagian besar langsung ke Bolaang Mongondow. Mereka diterima dengan baik oleh raja Salomon Manopo dan mengijinkan mereka mendirikan dua perkampungan yakni Mariri dan Po’opo.
Beralas pada penuturan orang-orang tua Tondei dan ditambah pula dengan fakta sejarah di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Mawale telah didirikan antara tahun 1693 dan tahun 1694 oleh orang-orang Tumompaso, Sumonder, Tombariri, dan suku-suku dari utara Minahasa yang kemudian di sebut sebagai orang-orang Raanan.
Sumber lain memberitahu bahwa Mawale adalah suatu tempat lokasi perkampungan orang-orang yang mencari nafkah (ikan hutan) lalu oleh karena orang-orang yang bermukim di situ bukan orang asli dari lokasi tempat tersebut karena jarak desa mereka dengan tempat mencari nafkah jauh, sehingga dalam beberapa waktu kemudian, tempat mereka (Raanan Lama, Wanga, Lompad) dijadikan tempat istirahat atau terung (pondok). Mereka mulai membuka lahannya sambil menanam palawija berupa jagung, kacang-kacangan, ubi, pisang dan kelapa.
Kemudian setelah beberapa tahun mereka bermukim di situ mereka mulai mendapat tantangan yang diistilahkan mamuis (orang yang mengambil kepala orang) dari Mangindanou. Padahal orang-orang Mangindanou bukan mengambil kepala orang tetapi menculik orang-orang Minahasa untuk dibawah di Mangindanou (Filipina) untuk dijadikan budak. Selain itupula, masyarakat bermukim di lokasi tersebut diserang dengan penyakit malaria; sehingga mereka terpaksa meninggalkan lokasi tersebut beberapa tahun lamanya. Hal itu terjadi sekitar tahun 1800.
Pembentukan Desa Tondei
Berdasarkan penuturan orang-orang tua daerah yang pernah didiami oleh orang-orang Raanan dahulu di lembah antara gunung Lolombulan dan Sinonsayang, itu amat subur dan sangat baik bagi pertanian. Cerita tentang kesuburan tanah, banyaknya hewan  buruan, dan lain-lain tersebar luas pada akhir abad ke 19 ke desa-desa seperti desa Raanan Lama, Raanan Baru, Motoling dan Wanga. Ini yang menyebabkan mereka bersepakat untuk mencari dan menyelidiki daerah Mawale yang merupakan bekas perkampungan orang-orang Raanan.
Kira-kira pada tahun 1903 rombongan pertama dibawah pimpinan tokoh-tokoh perintis seperti Tonaas Daniel Muntu-untu dari Motoling dan Jusof Wongkar dari Raanan Lama menemukan daerah itu dan hasil penyelidikan sangat memuaskan. Usaha mencari tempat itu disebut Tumondei. Dalam bahasa Tontemboan, kata “tumondei”  artinya mencari kembali bekas perkampungan Mawale. Hasil penyelidikan disebarkan ke desa-desa tersebut. Sejak tahun 1903 rombongan demi rombongan berangkat ke daerah Mawale, merombak hutan dan membuka perladangan untuk ditanami padi dan jagung. Karena sistem bertani berpindah-pindah maka areal yang dibuka menjadi luas sekali, sebelah utara sampai di sungai Rano Dua, sebelah selatan sampai sungai Neang, sebelah barat sampai sungai Kokitong, sebelah timur sampai ke perbukitan Kantil. Bila panen tiba, maka hasil pertanian dibawa pulang ke desa-desa mereka, namun hal ini menimbulkan kesulitan. Jalan untuk kendaraan roda sapi belum ada dan muatan hanya dimuat di atas punggung kuda. Keadaan ini mendorong para petani untuk menetap dan mendirikan suatu perkampungan baru. Pada tahun 1906 dalam musim sorob wangko atau kemarau panjang dalam bulan Agustus, sebelum membuka perladangan padi, para Tonaas memutuskan akan membuka perkampungan baru melalui suatu upacara keagamaan. Tempat yang dipilih untuk meletakkan dasar perkampungan jaraknya kurang lebih 700 meter sebelah timur Mawale, Kira-kira sebelah di selatan/belakang gereja GMIM Imanuel Tondei sekarang. Walaupun pendiri desa Tondei sudah beragama Kristen, namun mereka belum meninggalkan kebiasaan kebiasaan nenek moyang. Mereka merasa perlu menayakan kepada opo-opo, apakah orang-orang yang akan mendiami perkampungan yang didirikan itu boleh hidup makmur dan sejahtera. Opo-opo akan menjawabnya melalui isyarat burung manguni (burung hantu). Bunyi burung yang akan terdengar dijadikan sebagai jawaban yaitu membenarkan atau menolak/melarang. Diperlukan sembilan kali jawaban dari burung manguni secara berturut turut untuk jawaban setuju.
Jalannya upacara sebagai berikut:
Tonaas meniup semacam suling yang dikenal dengan nama sumoring. Melalui isyarat bunyi sumoring ini menanyakan kepada opo-opo  apakah tempat ini baik untuk dijadikan pemukiman atau kampung.  Pada sumoring pertama jawaban opo-opo melalui bunyi burung manguni membenarkan. Mendengar jawaban setuju, Tonaas mematahkan sebagian lidi enau yang kering, kemudian patahan yang kecil itu dimasukkan kesebuah periuk yang telah disediakan. Sembilan kali Tonaas meniupkan suling atau sumoring, sembilan kali jawaban setuju dari opo-opo. sembilan patahan lidi juga dimasukkan ke periuk. Sembilan patahan itu disebut siow lentuk. Setelah diperoleh sembilan jawaban dari opo-opo, maka diumumkanlah oleh Tonaas bahwa opo-opo setuju tempat itu didirikan sebuah kampung untuk didiami. Periuk yang berisi siow lentuk dimasukkan dalam sebuah lobang, kemudian ditimbuni menjadi dasar pertama pembangunan perkampungan.
Pada mulanya orang menamai kampung itu “Tinondeian”  yang artinya “dicari kembali” dan pada tahun 1908, tatkala tempat ini diakui sebagai dusun di bawah pemerintahan desa Raanan Baru namanya disingkat menjadi Tondei.
Sebagai wakil Hukum Tua ditunjuklah seorang pendiri perkampungan ini, yakni Jusof Wongkar yang berasal dari desa Raanan Lama dengan panggilan “Perewis”. Dialah yang menjalankan pemerintahan sehari-hari atas nama Hukum Tua Raanan Baru.
Dalam bulan November 1913, tanggalnya tidak diketahui dengan pasti, perkampungan Tondei diresmikan sebagai satu desa yang berdiri sendiri lepas dari pemerintahan desa Raanan Baru. Desa Tondei dapat memilih Hukum Tuanya sendiri. Kira-kira dalam tahun 1915 diadakanlah pemilihan Hukum Tua dan terpilih sebagai Hukum Tua pertama ialah bapak Demas Kawengian. Penduduk waktu itu kurang lebih 1000 jiwa dengan jumlah jaga sebanyak tiga jaga (dusun). Sesudah perang dunia II, datanglah menetap di Tondei beberapa keluarga dari Seretan dan Langowan.
Beberapa Catatan Dicantumkan Di Bawah Ini
Tahun 1903, Lokasi pemukiman orang Raanan dahulu kala (Mawale) dicari (Tondeian) dan ditemukan.
Agustus tahun 1906, Upacara keagamaan pembukaan perkampungan.
Tahun 1908, Perkampungan diakui sebagai satu jaga dibawah pemerintahan desa Raanan Baru.
November Tahun 1913, Perkampungan diresmikan menjadi satu desa dengan nama Tondei.
Tokoh tokoh pendiri:
1)     Daniel Muntu-untu
2)     Jusof Wongkar
Perkembangan  Penduduk:
Tahun           1906-1908 : ± 200 jiwa
1913 : ± 1000 jiwa
1968 : ± 1800 jiwa
1976 : ± 2200 jiwa
1985 : ± 2600 jiwa
1989 : ± 3000 jiwa
Suku-suku: Tontemboan, dan beberapa keluarga dari Tolour.
Tondei dikategorikan sebagai desa Swakarya.
Jumlah jaga (dusun):
v 1908 : 1 jaga
v 1913 : 2 jaga
v 1950 : 4 jaga
v 1968 : 5 jaga
v 1976 : 6 jaga
v 1982 : 7 jaga
v 1984 : 10 jaga



















Bagian 3
PERKEMBANGAN
PERKAMPUNGAN DESA TONDEI



Text Box: LSejarah Perkembangan Perkampungan
uas desa Tondei pada pembentukannya 200 x 100 meter bujur sangkar, kemudian sekarang menjadi luas kira kira 1 km2. Panjang jalan yang menghubungkan dengan ibukota kecamatan Motoling kira kira 14 km. Sejak desa ini didirikan hingga akhir tahun 1977, jalan ini sukar dilalui kendaraan bermotor, sehingga sangat sukar bagi masyarakat desa Tondei untuk mengeluarkan hasil-hasil pertaniannya seperti kopra, gula, jagung dan lain-lain, baik ke Motoling maupun Ongkau. Sekarang dengan adanya kegiatan masyarakat Tondei dalam memperbaiki jalan antara desa Tondei dan desa Raanan Baru maka kendaraan bermotor sudah boleh melalui jalan itu walaupun dengan susah payah karena berlumpur dan berbatu-batu di sana sini apalagi dimusim penghujan. Jarak antara desa Tondei dan desa Raanan Baru kira kira 9 km. Sepanjang 3 km dari arah desa Tondei, melintasi daerah perkebunan orang orang Tondei, dan sepanjang 3 km melintasi lereng gunung Kantil dengan tebing disebelah kiri sedang di sebelah kanan jurang yang agak dalam, dan 3 km kemudian melintasi perkebunan orang orang Raanan Baru. Ruas jalan ini sering terputus akibat tanah longsor. Jika di musim penghujan, hampir setiap hari senin masyarakat desa Tondei melaksanakan kerja bakti untuk memperbaiki jalan agar dapat dilalui kendaraan bermotor. Desa Tondei juga dihubungkan dengan desa Ongkaw yang jaraknya kira-kira 11 km. Jalan ini sudah pernah diaspal sepanjang 6 km. Untuk kepentingan kesehatan, Puskesmas Motoling membuka pos kesehatan di desa Tondei yang dilayani oleh seorang juru rawat yakni yang dikenal masyarakat ibu Mantri Lintong. Perkembangan disektor pertanian, secara umum masyarakat petani masih awam dengan teknologi pertanian, masih bertani secara tradisional. Pada tahun 1980-1981 pemerintah melaksanakan reboisasi di daerah perkebunan Kantil, namun program ini tidak berhasil karena bibit kayu yang ditanam banyak yang sudah rusak dalam transportasi. Oleh karena kurangnya pengetahuan petani terhadap teknologi pertanian, maka pemerintah desa Tondei oleh Hukum Tua Lon Laloan Londa Sumangkut menggagas kerjasama dengan Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP) Kalasey untuk membangun kebun percontohan di desa Tondei.
Perekonomian Atau Mata Pencaharian
Mata pencahrian utama penduduk desa Tondei adalah bertani. Untuk tanaman musiman, petani bercocok tanam jagung, padi ladang dan sebagian kecil bercocok tanam padi sawah sedangkan untuk tanaman tahunan, masyarakat desa Tondei bercocok tanam kelapa, cengkih, kopi dan panili. Tanaman kelapa mula-mula ditanam sekitar tahun 1906 sedangkan cengkih nanti ditanam sekitar tahun 1930. Disamping itu banyak juga petani mengolah gula merah atau gula aren karena di wilayah desa Tondei banyak tanaman seho atau enau.
Sejarah Pemerintahan
Desa Tondei diakui sebagai perkampungan pada tahun 1908 di bawah pemerintahan Hukum Tua Raanan Baru dan nanti pada tahun 1913 diresmikan sebagai desa yang berdiri sendiri dalam Onderdistrik Tompaso Baru, sekalipun Hukum Kedua berkedudukan di Motoling. Di bawah ini dicantumkan berturut-turut nama-nama Hukum Tua yang pernah memerintah desa Tondei sejak terbentuknya hingga sekarang:
1.            Jusof Wongkar, wakil Hukum Tua Raanan Baru di Tondei (1908-1915)
2.                                Demas Kawengian, Hukum Tua pertama (terpilih) (1915-1931)
3.                               Isaak Sumangkut, Hukum Tua (terpilih) (1931-1940)
4.                               Israil Lumowa, Hukum Tua (terpilih) (1940-1946)
5.                               Herling Lumenta, Hukum Tua (wakil) (1946-1947)
6.                               Herling Lumenta, Hukum Tua (terpilih) (1947-1959)
7.            Marinus Pondaag, Hukum Tua (ditunjuk) (1960-1964) mengepalai rakyat Tondei dalam pengungsian di Raanan Baru semasa pergolakan Permesta juga setelah kembali ke Tondei pada tahun 1961.
8.                               Herling Lumenta, Hukum Tua (1964-1968)
9.                               Bernard Lumapow, Hukum Tua (Terpilih) (1968-1973)
10.                          Julian Wongkar (ditunjuk kemudian dipilih) (1973-1979)
11.                          John Lumapow, Pj. Hukum Tua (ditunjuk) (1979-1989)
12.                          Johanis Sengkey, Wakil Hukum Tua (ditunjuk) ((1980-…)
13.                          Julian Wongkar, Hukum tua (terpilih) (1980-1983)
14.                          Gustaf Lumapow, Penjabat Hukum Tua (ditunjuk) (1983-1984)
15.                          Laloan L.L. Sumangkut, Kepala Desa (terpilih pada 9 Juni 1984-1992)





Bagian 4
PERKEMBANGAN KEAGAMAAN DI  
DESA TONDEI



Text Box: SGolongan Agama Pertama
epanjang penuturan perintis-perintis pembangunan desa Tondei bersama rombongannya yang merupakan penduduk mula-mula desa ini sudah memeluk agama Kristen. Tetapi mereka belum melepaskan sama sekali kebiasaan-kebiasaan kafir. Hal ini nyata pada pembukaan desa Tondei. Mereka masih memerluhkan isyarat baik dari burung manguni untuk menentukan tempat desa yang baik. Tetapi lama-kelamaan, kebiasaan-kebiasaan kafir itu mulai ditinggalkan akibat kegiatan pekabaran Injil oleh pelayan-pelayan gereja yang setia dan berani.
Di Tondei hingga saat ini (hingga tahun 1989) terdapat 4 golongan gereja:
1.              GMIM (Gereja Masehi Injili Di Minahasa)
2.              GPDI (Gereja Pantekostas Di Indonesia)
3.              KGBI (Kerapatan Gereja Baptis Indonesia)
4.              RK (Roma Katolik)
Sejarah Perkembangan GMIM
Sejak berdirinya desa Tondei (1908) hingga pada tahun 1929 di Tondei hanya ada satu golongan gereja saja, yakni Gereja Protestan “Indische Kerk”.
Pada tahun 1934 tanggal 30 September 1934, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) memisahkan diri dari Indische Kerk dan memproklamasikan dirinya sebagai Gereja yang berdiri sendiri. Jemaat Kristen Protestan Tondei mulailah disebut GMIM. Keadaan jemaat pada pembukaan Desa Tondei (1908) ± 40 kepala keluarta
1950 ± 180 kepala keluarga
1954 ± 200 kepala keluarga
1981 ± 330 kepala keluarga
1985 ± 335 KK dan ± 1700 jiwa=11 kolom
Berturut-turut jemaat GMIM telah dipimpin oleh pelayan-pelayan:
1.                   K. Palapa, guru sekolah dan guru jemaat (1908-1913)
2.                   J. Salangka, kepala SD dan guru Jemaat (1913-1918)
3.                   G. Kumolontang, kepala SD dan guru jemaat (1918-1920)
4.                   K. Sahensolar, kepala SD dan guru jemaat (1920-1925)
5.                   I.D.U. Rawung, kepala SD dan guru jemaat (1925-1930)
6.                   D. Mogogibung, guru jemaat (1930-1934)
7.                   I.D.U Rawung, Kepala SD dan Guru Jemaat (1934-1946)
8.                   H. Limpele, Kepala SD dan Guru jemaat. (1946-1948)
9.                   Majelis jemaat, tak ada guru jemaat (1949)
10.    C. Bujung, Guru SD dan Guru Jemaat, berhenti karena pindah ke Tomohon (1949-1952)
11.              Majelis Jemaat, tak ada guru jemaat (1953)
12.              A. Lumapow, Ketua/Guru Jemaat  (1954-1981)
13.              C Bujung, Pensiunan Kepala SD, Ketua/Guru Jemaat (1982- sekarang)



Sejarah Perkembangan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tondei
Sebagaimana dituturkan, pada tahun 1929 masuklah ke Tondei suatu golongan baru  dengan nama waktu itu Pinkster Gemeente yang di bawa oleh Jan Lumenta, seorang putera desa Tondei. Sebelum melayani, Jan Lumenta adalah anggota angkatan laut, namun pekerjaannya sebagai tentara dilepaskannya demi pelayanan penginjilan di lingkungan Gereja Pinkster Gemeente (GPdI Sekarang). Dari Surabaya ia datang ke Minahasa dan langsung datang ke kampungnya (desa Tondei). Di Tondei dibentuknya sebuah jemaat Pantekosta dan jemaat ini adalah jemaat GPdI mula-mula di Minahasa  bagian Selatan.
Berturut turut jemaat GPdI Tondei telah dilayani oleh hamba hamba Tuhan yakni:
1.                   Jan Lumenta, Gembala sidang pertama 1929-1935
2.                   Z. Lumenta, Gembala 1935-1937
3.                   A. Sondakh, Gembala 1937-1944
4.                   J. Kumaat, Gembala 1945-1949
5.                   S. Rondonuwu, Gembala 1949-1953
6.                   H. Giroth, Gembala 1953-1955
7.                   P. Tambaani, Gembala 1955-1966
8.                   E. Rondonuwu, Gembala 1967-1981
9.                   J. Lumenta, Gembala 1981-sekarang.
Keadaan jemaat sekarang:
Jumlah Kepala Keluarga : Kira kira 220 kk.
Jumlah jiwa: kira kira 1000 jiwa.

Golongan Agama Yang Baru
Sejarah desa Tondei dalam tahun 1984 diwarnai oleh dua peristiwa penting.
Pertama, Pemilihan kepala desa menurut peraturan baru yakni satu kali memilih. Suara terbanyak adalah sah menjadi kepala desa. Yang terpilih adalah Lon Laloan Londa Sumangkut. (Peristiwa pada akhir tengah tahun pertama 1984).
Kedua, Seolah-olah terpicu peristiwa diatas, masuklah di Tondei satu golongan gereja baru yaitu Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI) dan disusul dengan agama baru yaitu Gereja Katolik yang terdiri dari umat Katolik yang karena ketiadaan pemimpin sebelumnya bergabung/beribadah dengan jemaat GMIM (peristiwa pada awal tengah tahun kedua 1984).
Keadaan golongan golongan tersebut:
KGBI dipelopori oleh Gustaf Lumapow dan Kuniaki Lumowa dan gembala sidang pertama adalah F. Wohon, dengan jumlah kepala keluarga kira-kira 10 Keluarga (KK) atau  50 jiwa.
Roma Katolik (RK) pembentukannya dipelopori oleh Petrus Tamaka dan guru jemaat pertama adalah Kilisan dengan jumlah kk sekitar 5 kk jumlah jiwa kira kira 25 jiwa.
Tempat-Tempat Ibadah
·        Tempat Ibadah Jemaat GMIM
Jemaat GMIM mulai membangun gedung gereja pada tahun 1976 dengan swadaya murni jemaat. Besarnya bangunan adalah 23 x 10 m, permanen dan sudah menelan biaya ± Rp 40.000.000. Gedung itu selesai dibangun pada tahun 1979 dan ditahbiskan dalam suatu ibadah jemaat yang dipimpin oleh ketua sinode GMIM pada 24 Agustus 1980. Sebelumnya gedung itu sudah diresmikan oleh Bupati KDH Tingkat II Minahasa pada tanggal 13 Desember 1979.
·        Tempat ibadah jemaat GPdI
Gedung gereja jemaat GPdI selesai dibangun pada akhir tahun 1983. ukuran 24x12 m bentuk permanen dan telah menelan biaya kurang lebih 50 juta rupiah. Gedung itu udah ditahbiskan dalam suatu ibadah jemaat dengan dihadiri oleh gubernur dati I Sulawesi Utara.
·        Tempat ibadah jemaat Roma Katholik
Gedung gereja umat katolik bentuk permanent masiy sementara dibangun tetapi sudah dapat digunakan untuk beribadah.
·        Tempat ibadah jemaat KGBI
Jemaat KGBI sudang membangun gedung gerejanya bentuk semi permanen dan sudah dapat dipergunakan untuk acara ibadah jemaat.
















Bagian 5
KEBUDAYAAN



Text Box: OAdat  Istiadat
rang-orang tua dulu kurang memperhatikan penanggalan, misalnya tentang kelahiran anak. Bila seroang anak lahir, maka saat kelahiran itu selalu dihubungkan dengan sesuatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu agar tidak mudah dilupakan. Jika ditanya tanggal berapa anak lahir, maka jawaban yang diperoleh, bukan tanggal berapa anak lahir, maka jawaban yang diperoleh, bukan tanggal atau bulan yang tepat. Orang akan menjawab bahwa kelahiran anaknya bertepatan dengan perombakan hutan di suatu tempat atau bertepatan dengan kunjungan seorang pembesar di desa itu atau dengan ditanamnya sesuatu pohon. Dengan demikian penentuan umur orang-orang dahulu hanya berdasarkan perkiraan belaka.
Tentang Perkawinan
Perkawinan di tondei dari dahulu hingga sekarang terjadi sebagai berikut:
1.                   Muey (melamar)
Si teruna mengirim surat pada si gadis pilihannya tentang cintanya pada gadis itu atau menyampaikannya secara lisan. Jika ia malu berhadapan langsung atau tidak tahu menulis, dipakainya seorang pengantara. Jika lamaran itu  diterima, maka terciptalah suatu hubungan percintaan antara keduanya.
2.                 Tumindondor-moweh
Tumindondor moweh adalah berdiri berhadapan langsung dengan orang tua gadis dan memberitahukan hal percintaan mereka. Si teruna baik langsung atau melalui seorang pengantara melapor kepada orang tua si gadis hal perhubungan cinta antara si teruna tersebut dengan si gadis. Bila hubungan itu direstui oleh kedua orang tua, si teruna dan si gadis maka menyusul hal yang berikut.
3.                 Tumantu, Tumerang
Menentukan atau memohon penjelasan selanjutnya orang tua si teruna langsung atau melalui seorang pengantara membicarakan dengan orang tua si gadis tentang kelangsungan hubungan kedua anak mereka, tentang mas kawin dan lain-lain yang brhubungan dengan pernikahan anak mereka. Bila telah ada persesuaian dalam segala hal, maka menyusul pula hal berikut.
4.                 Tumuruk
Tumuruk maksudnya mengantar harta atau peminangan. orang tua pihak teruna dengan kaum keluargannya berangkat ke rumah orang tua gadis. Di rumah si gadis juga sudah menanti seluruh keluarga orang tua si teruna. Terjadilah percakapan melalui wakil mereka menyerahkan “harta kawin” kepada orang tua si gadis sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati waktu “tumerang” maka resmilah pertunangan mereka. Acara tukar cincin dapat dilaksanakan bila pihak teruna menyediakannya.
5.            Sumampet
Rencana atau cita-cita tercapai, kemudian menyusullah pernikahan melalui petugas gereja atau petugas pemerintah. Kebiasaannya pihak orang tua gadislah yang pertama-tama mengadakan pesta pernikahan, kemudian pihak orang tua teruna mengadakan pula pesta pernikahan. Pada kesempatan itulah mempelai wanita diantar ke rumah mempelai pria disertai oleh seluruh keluarga kedua belah pihak. Dalam cara pesta pernikahan biasanya disuguhkan pidato-pidato nasihat kepada kedua mempelai sebagai bekal hidup berumah tangga.
Dengan “sumampet” maka tercapailah cita-cita si terurna dan si gadis untuk hidup bersama-sama sebagai pasangan suami-istri. Sesudah menikah mereka dapat memilih dua hal yaitu, pertama, tinggal dalam rumah sendiri-lepas dari tanggungan orang tua. Kedua, tinggal di rumah orang tua laki-laki atau perempuan sebelum mereka dapat mendirikan rumah sendiri.
Di Tondei orang berpandangan, bahwa si suami adalah kepala rumah tangga dan si istri adalah bendahara rumah tangga. Pernikahan terjadi atas dasar suka sama suka. Tak ada kawin paksa.
Peristiwa Kematian
Pada peristiwa-peristiwa kematian kerukunan nampak menonjol. Keluarga yang berduka cita mendapat bantuan bahan makanan, uang dan sebagainya dari masyarakat. Hal ini dipelopori pemerintah desa dan pimpinan gereja. Pada hari minggu pertama sesudah peristiwa kedukaan, semua anggota masyarakat berkupul di rumah keluarga yang berduka untuk makan siang bersama-sama dalam rangka menghibur keluarga yang berduka. Semua yang datang membawa makanan sendiri. Hal ini dimaksudkan agar yang berduka cita tidak lebih diberatkan bebannya dengan menyediakan makanan bagi mereka yang datang berkumpul di rumahnya.
Kini di Tondei telah dibentuk puluhan “rukun” yang bertujuan memberi bantuan baik berupa uang atau beras dan sebagainya. Pada anggota yang mengalami peristiwa kedukaan. Juga ada rukun jaga yang dikendalikan oleh pimpinan pemerintah jaga/dusun yaitu Kepala Jaga dan Meweteng.
Suatu kebiasaan dahulu yang bisasa dilakukan ialah perayaan tiga malam semua anggota keluarga atau sebagian dari masyarakat berkumpul di rumah keluarga yang berduka untuk makan bersama-sama. Acara ini diadakan berdasarkan kepercayaan bahwa pada malam ketiga jiwa dari si mati bangkit dari kubur dan mulai berkeliaran mengunjungi keluargannya di semua tempat yang pernah dikunjungingya semasa hidupnya. Beralas pada kepercayaan itu maka kelauarga yang berduka pada waktu makan atau minum meletakkan di ujung meja sebuah piring kecil berisi nasi sedikit ikan atau telur untuk “dimakan” oleh jiwa dari yang baru meninggal. Bila jiwa itu datang berkunjung, hal ini disebut “ma’umper atau ma’belet”. Ini dilakukan selama 40 hari, 40 malam lamanya. Kadang-kadang pada peringatan tiga malam diundang juga seorang dukun dengan maksud akan mendengarkan pesan-pesan orang yang baru meninggal. Dukun itu disurupi roh orang mati sehingga tidak sadarkan diri lagi. Mulailah ia berkata-kata meyampaikan pesan-pesan kepada keluarganya. Suara sama benar dengan suara orang yang telah meninggal itu, semasa ia masih hidup.
Empat puluh hari kemudian dari kematian seseorang diadakan pula peringatan 40 malam berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa orang meninggal itu akan meninggalkan dunia ini menuju tempat yang disediakan baginya. Jiwa orang yang semasa hidupnya jahat akan panda ke gua-gua, ke batu batu besa ke mata air dan tau ke pohon-pohon besar sebagi roh jahat atau hantu. Kerjanya mengganggu dan mencelakakan orang yang melintasi tempat mereka yang angker itu. Jiwa orang yang semasa hidupnya selalu berbuat baik meninggalkan dunia ini pindah kalam “ka-ka-puan atau karawisan” tempat “samak” yang disediakan untuk mereka. Lama-kelamaan karena pengaruh agama Kristen dan berkat pelayanan Injil yang mantap peringatan tiga malam dan 40 malam berangsur-angsur lenyap.
Upacara adat lainnya seperti kedukaan. Bilamana ada yang meninggal dunia maka dianggap roh dari orang mati tersebut belum langsung naik ke surga. Oleh karena itu setiap ada kedukaan, maka di rumah duka bagian dalam kamar di lantai ditaburkan bahan berupa tepung. Karena menurut kepercayaan budaya waktu itu bahwa orang yang sudah meninggal itu sering datang dan bukti kedatangannya diamati oleh keluarganya melalui bekas kaki di lantai yang tertabur tepung. Upacara kedukaan dipimpin oleh guru jemaat atau penelong yang sekarang disebut sebagai pendeta.
Menabur Padi (Kumelod)
Berladang dilakukan secara alamiah. Tonaas atau kepala perkampuangan menentukan waktu yang baik untuk merombak hutan dan daerah hutan mana yang akan dirombak untuk dijadikan lahan perkebunan. Hal ini dilakukan di musim panas, jadi sekitar bulan Juli dan Agustus. Petani-petani membentuk Ma’ando atau Mapalus (budaya gotong-royong). Bila komando telah diberikan, menyerbulah mapalus-mapalus ke lokasi yang telah ditunjukkan oleh Tonaas atau Hukum Tua. Kay-kayu ditebang, rumput-rumput dipangkas dan setelah kering dibakar. Karena hal ini dilaksanakan pada musim panas, maka hampir semua kayu yang ditebang dan rumput-rumput terbakar, tinggal abu-abunya. Maka tibalah saatnya menabur. Menabur padi dikerjakan juga dengan bermapalus. Bila benih padi telah bertumbuh dan mulai berbuah, maka kebun itu tidak boleh lagi dilalui oleh orang-orang yang sedang memikul buluh (bambu) yang baru ditebang. Menurut cerita orang-orang tua jika pantangan ini dilanggar maka tikus-tikus akan menyerbu kebun itu dan merusakan tanaman padi di dalamnya.
Bila panen tiba, yang empunya kebun mengundang sanak saudara dan handai taulan, pemuka masyarakat, dan sebagian penduduk untuk beramai-ramai menuai padi. Pada peristiwa ini diadakan pesta penuaian oleh tuan kebun. Sementara menuai diperdengarkanlah nyanyian tua, kidung-kidung rohani atau ma-oweinya, pada waktu makan diperdengarkanlah pula pidato-pidato oleh pimpinan desa dan gereja, bila mereka diundang pada penuaian itu. Pesta itu dilakukan di tempat penuaian, kadang-kadang sesudah menuai, masih ada keluarga yang mengadakan pesta “makan pada baru” atau “kuman im beru”. Bila penuaian sudah berlalu, maka pada pertengahan tahun, orang akan mengadakan “pengucapan syukur penuaian” atau “syukur pungutan”.
Penghormatan Apo-Apo
Apabila orang membicarakan nenek moyangnya, mereka menyebutnya dengan sapaan “apo”. Lain pula pengertiannya kalau mereka menyebut opo-opo yang lebih murni artinya dewa-dewa. Masih terselip kepercayaan pada sebagian masyarakat tentang adanya opo-opo yang berdiam di tempat tertentu. Orang harus belaku sopan dan harus berdehem bila melewati kuala, mata air, gua-gua. Kubur-kubur, dan tempat-tempat sunyi yang dianggap sebagi tempat tinggal opo-opo. “berdehem” dapat diartikan sebagai permisi dan minta jalan untuk melewati tempat itu.


Tanda-Tanda Bunyi Binatang
Bunyi burung manguni atau wala (Burung hantu), belalang, cicak, dan kokosit dianggap sebagai tanda pemberitahuan dari opo-opo tentang adanya bahaya yang mengancam atau kemujuran yang sedang mendatang.
Bunyi kucing yang sedang bercumbu-cumbuan dengan “kekasihnya” yang kedengaran sebagai menangis dianggap sebagai pemberitahuan dari opo-opo, bahwa salah seorang kerabat akan meninggal dalam waktu dekat.
Bila orang bersin pada saat seorang akan membuat perjalanan atau memulaikan suatu usaha, ia harus mengurungkan waktunya. Burung, kucing menyebrang jalan. Sebab jika tak demikian, ia akan menemui kegagalan atau sesuatu marabahaya.
Berkat penginjilan yang bersungguh-sunggu dari para pelayan gereja maka penghormatan pada opo-opo dan kepercayaan pada tanda-tanda bunyi binatang berangsur-angsur lenyap.
Upacara-Upacara Adat
Upacara upacara adat tidak ada yang menonjol. Pelantikan Hukum Tua yang terpilih dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah. Penyambutan tamu agungpun dilaksanakan seperti kebiasaan pada umumnya, yakni dijemput di ujung kampung, pengalungan bunga dan sebagainya.
Kepurbakalaan
Kira-kira 50 meter di sebelah selatan desa Tondei Dua (sekarang) dekat mata air terdapat sebuah lesung batu yang besar. Dasarnya tertanam jauh dalam tanah. Tingginya ± 1,5 meter. Di atas permukaan tanah, bentuknya hampir menyerupai silinder dengan garis tengahnya kira-kira 1 meter pada dinding luar lesung terukur pria dan wanita yang sedang menari. Menurut cerita orang tua-tua, benda itu merupakan benda purba peninggalan orang-orang yang pernah bermukin di daeran itu di masa lalu. Di daerah dimana terdapat lesung batu itu disebut orang “Lutau”. Lutau artinya “tembak”. pemberian nama ini punya sejarahnya sendiri. Menurut cerita, pada suatu hari di siang bolong tiba-tiba penghuni daerah itu dikejutkan oleh bunyi guruh yang dahsyat bagaikan beratus-ratus meriam ditembakkan pada saat yang sama. Bumi berguncang dan orang-orang ketakutan. Bunyi yang hebat itu datangnya dari daerah lesung batu. Mulai saat itu daerah itu disebut masyarakat setempat dengan sebutan “lutau”.
Cerita Rakyat
Peristiwa upacara pembentukan desa Tondei dengan “Sumering”, cerita Mawale, lesung batu, dan Lutau dapat juga disebut sebagai cerita rakyat dari Tondei. Mungkin masih ada, tetapi karena tidak dibukukan atau tidak dituturkan dari mulut ke mulut, akhirnya dilupakan orang.



















Bagian 6
PERKEMBANGAN SOSIAL, PENDIDIKAN, DAN KESENIAN



Text Box: TKepariwisataan
empat-tempat hiburan atau rekreasi dan sebagainya masa ini belum ada di Tondei. Tetapi bila daerah “lutau” dimana terdapat tempat lesung batu peninggalan purba itu dipugar, kiranya nanti dapat memikat wisatawan-wisatawati luar dan dalam negeri. Dan inipun dapat dimungkinkan bila jalan Motoling ke Tondei diperbaiki dan diberi aspal seluruhnya.
Industri
Tondei merupakan suatu desa penghasil kopra nomor satu di kecamatan Motoling. Hasil cengkihnyapun menanjak pada tiap-tiap musim pemetikan. Maka besar kemungkinan pada waktu mendatang, suatu perusahaan minyak kelapa atau cengkih akan terdapat di desa ini.
Pendidikan
Di Tondei terdapat 6 sekolah, yakni:
1.            Taman Kanak-Kanak GMIM Dorkas Tabita
2.            SD GMIM Tondei
3.            SMP Kristen, ketiga sekolah ini (no. 1,2, dan 3) dibawah asuhan Jemaat GMIM.
4.            Taman kanak-kanak GPdI “Hana”
5.            SD GPdI kedua sekolah ini (no. 4dan 5) dibawah asuhan jemaat GPdI.
6.            SD INPRES Tondei


v Taman Kanak-Kanak GMIM Dorkas Tabita
Pada tahun 1970 diinstruksikan bahwa tiap-tiap SD harus didampingi oleh sebuah TK. Kepala SD GMIM, C. Bujung mendirikan TK GMIM dengan nama “Dorkas Tabita” dan menunjuk seorang guru SD GMIM diperbantukan pada TK tersebutu. TK ini didirikan pda tanggal 5 Juli 1970.
Berturut-turut TK ini telah dipimpin oleh guru-guru SD GMIM dpb:
§   Ny. Dietje Lumapow-Sumangkut (1970-1973)
§   Ny. L.E. Rawung-Lumowa (1973-1976)
§   Ny. N. Lumowa-Bella (1976-hingga sekarang)
Sebagai tenaga sukarela bekerja juga pada TK “Dorkas Tabita” dua orang guru tamatan KPG jurusan TK yakni Ny. Anatje Pangkey-Palapa dan Ny. Stientje Kawengian-Oping.
Pada permulaan tahun 1984 Pemerintah menempatkan seorang guru Pegawai Negeri Sipil pada TK ini yakni nona Meity Umboh dari Karimbow.
v Sekolah Dasar GMIM Tondei
Pada tahun 1908 dibuka sebuah Sekolah Dasar yang berstatus swasta penuh dibawah asuhan jemaat Masehi setempat. Tujuannya untuk menampung anak-anak petani yang mulai menetap di perkampungan Tondei. Sekolah sedemikian disebut sekolah liar atau Wilde School ssesuai istilah pada waktu itu, yang biasa dikenakan pada sekolah-sekolah swasta penuh.
Pada tahun 1913 desa Tondei diresmikan sebagai desa, yang berdiri sendiri. Pada tahun itu juga sekolah jemaat itu diresmikan menjadi sekolah bersubsidi dibawah asuahan Nederlands Zenderlings Genooschap (NZG), sebuah Lembaga Pengijilan Belanda. Guru yang telah memimpin sekolah itu di masa masih berstatus “sekolah liar” diganti dengan seroang guru dari NZG.
Pada tahun 1934 tatkala GMIM memproklamasikan dirinya sebagai gereja yang berdiri sendiri maka sekolah NZG itu menjadi Sekolah Rendah GMIM sesudah perang dunia II nama sekolah Rendah menjadi Sekolah Rakyat (SR), dan pada tahun 1964 menjadi Sekolah Dasar (SD) hingga sekarang.
Sejak berdirinya sebagai sekolah NZG pada tahun 1913 sekolah mempergunakan gedung gereja sebagai tempat belajar. Rumah ibadah itu dibagun di atas kintal (lahan) yang dihadiahkan oleh keluarga Tumanduk menjadi milik GMIM.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dikeluarkan perintah, bawah sekolah-sekolah tidak boleh lagi mempergunakan gedung gereja untuk tempat belajar. Berdasarkan perintah itu maka pada thaun 1944 Pemerintah desa Tondei berusaha mencarikan kintal untuk Sekolah Rendah yang sekarang disebut SD GMIM Tondei, oleh karena pada masa itu hanya ada satu Sekolah Rakyat (SR) yang melayani pendidikan bagi anak-anak dari seluruh masyarakat Tondei, yakni SR GMIM Tondei maka hal pula menjadi kewajiban seluruh masyarakat Tondei untuk meyediakan keperluan sekolah termasuk kintal, gedung sekolah, alat-alat sekolah dan sebagainya. Hukum Tua Tondei pada masa itu almarhum Israel Lumowa sesudah bermusyawarah dengan pamong-pamong desanya mengutus kepala jaga Markus Lumenta dan  kepala jaga Aris Poluakan membicarakan dengan bapak Z. Oping tentang penukaran sebuah tanah kebun tanah milik umum dengan kintal dekat pekuburan umum milik almarhum tersebut. Dalam pembicaraan itu diperoleh kata sepakat oleh Israil Lumowa sebagai Hukum Tua menyerahkan kintal itu pada kepala SR GMIM Tondei, Alm. Izaak Djajus Umboh Rawung menjadi kintal sekolah milik SR GMIM Tondei. Pada tahun 1945 dan 1946 kintal itu dipergunakan sebagai lapangan olahraga. Pada tahun 1947 kintal itu dibersihkan selurunya dan pada tahun 1948 mulai dibangun gedung SR GMIM. Pada peresmian gedung sekolah itu di tahun 1950 kepala Distrik Amurang didampingi Hukum Tua Tondei Herling Lumenta menyerahkan gedung sekolah besama kintalnya kepada kepala sekolah I.D.U. Rawung untuk dipergunakan. Pada tahun 1957 atas usaha kepala SR GMIM Tondei yang menghubungi pemerintah Daerah Minahasa melalui kepala distrik Motoling Lengkei, dijanjikanlah bantuan untuk pembangunan gedung SR GMIM Tondei. Bantuan pertama yang diberkan adalah 130 lembar seng dan beberapa pulu drum aspal untuk lantai gedung sekolah. Pada tahun 1957 tanggal l2 November diadakan peletakkan batu pertama bagi pembangunan gedung itu, tepat di hari ulang tahun SR GMIM Tondei yang ke-44. Turut meletakkan batu pertama:
v    C. Bujung, Kepala S.R. GMIM Tondei
v    H. Lumenta, sebagai Hukum Tua Tondei
v    A. Lumapow, sebagai guru jemaat GMIM
v    L. Bella, (kemudian hari menjadi Drs. L. Bella)
v    Ny. A.J. Bujung-Moningka, sebagai guru S.R. GMIM Tondei
Untuk memimpin pembangunan gedung ini oleh pemerintah distrik Motoling dikirim dua orang tukang dari Motoling yang gajinya ditanggung oleh pemerintah. Bahan-bahan seperti kayu, pasir, batu dan sebagainya disediakan oleh masyarakat desa Tondei. Sayang pembangunan gedung ini tidak dapat diselesaikan akibat perang saudara atau lazim disebut “pergolakkan permesta”. Malahan yang sementara dibangunpun rusak dimasa pergolakan permesta. Pada tahun 1959 dan 1960 sebagian masyarakat desa Tondei diungsikan ke desa Raanan Baru, termasuk guru-guru dan sebagian besar murid-murid SR GMIM Tondei. Baik guru maupun murid, semuanya ditampung di SR GMIM Raanan Baru. Untuk menjaga agar nama SR GMIM Tondei jangan terhapus atau hilang dari daftar sekolah-sekolah, maka Kepala SR GMIM Tondei memohon ijin kepada kepala pejabat pendidikan daerah Minahasa di Manado untuk membuka SR GMIM Tondei dalam pengungsian di Raanan Baru. Perjalan ke Manado melalui daratan tidak mungkin dilakukan karena berbahaya. Yang ditempuh ilah melalui jalan laut. Di manado permohonann itu diterima. Setiba kembali di desa Raanan Baru maka pada tanggal 25 November 1960 pada HUT SR GMIM Tondei yang ke 47 dibukalah SR GMIM Tondei dalam pengungsian dengan kepala sekolah tetap bapak C. Bujung dan guru-guru pembantu: Ny. A. J. Bujung-Moningka, Ny. O. Sual-Ngion, Dietje L. Sumangkut, dan M. Sual. Sekolah berjalan terus hingga masa penyelesaian. Masa pergolakan berakhir dan pada akhir tahun 1961, masyarakat desa Tondei yang telah mengungsi di Raanan Baru kembali pula ke Tondei. SR GMIM Tondei yang telah diungsikan ke Raanan Baru kembali pula dihidupkan atau diaktifkan kembali di desa Tondei. Gedung yang sementara dibangun ketika pergolakan dan terbengkalai karena perang kini tinggal puing-puingnya sebagian besar sudah lapuk. Hingga tahun 1970, SD GMIM memakai gedung darurat. Pada tahun 1971 gedung SD GMIM mulai dibangun dan dianggap selesai tahun 1975. pada tahun 1982 kantor SD GMIM Tondei selesai dibangun. Guru-guru yang menghidupkan kembali SD GMIM Tondei sekembalinya dari pengungsian adalah:
v C. Bujung (kepala sekolah)
v Ny. A. J. Bujung-Moningka (pembantu)
v Ny. O. M. Sual-Ngion (pembantu)
v M. Sual (pembantu)
v Dietje L. Sumangkut (pembantu)
Demikianlah adanya sekolah-sekolah yang dikelolah oleh jemaat GMIM Tondei dewasa ini. Sekolah yang tertua di desa ini ialah SD GMIM yang diresmikan berdirinya pada tanggal 25 November 1913. dalam usianya yang sudah 70 tahun, sekolah itu sudah dipimpin berturu-turut oleh kepala sekolah:
v  K. Palapa (1908-1913) status sekolah: swasta penuh asuhan jemaat Kristen Protestan setempat.
v  J. Salangka (1913-1918) status: swasta bersubsidi asuahan: NZG
v     G. Kumolontang ( 1918-1920)
v     K. H. Sahensolar (1920-1925)
v     Izaak Djajus Umboh Rawung (1925-1946)
v     H. Limpele (1946-1950)
v     Izaak Djajus Umboh Rawung (1950-1953)
v     H. Limpele (1953-1954)
v     tak ada kepala sekolah (1954-1955)
v     Cyrus Bujung (1955-1960)
v  Cyrus Bujung (1960-1961) dalam pengungsian di Raanan Baru pada masa pergolakkan permesta
v  Cyrus Bujung (1961-1978) pada akhir 1961 SD GMIM tondei dikembalikan ke Tondei.
v     Ny. A. J. Bujung-Moningka (1978-sekarang)

v  SMP Kristen Tondei
Majelis jemaat GMIM Tondei periode 1982-1986 melihat kenyataan bahwa:
§  Sangat kurangnya anggota masyarakat Tondei yang berpendidikan menengah, apalagi yang berpendididkan tinggi sehingga mereka yang menyandang gelar sarjana masih dapat dihitung dengan jari.
§  Demikian banyaknya murid lulusan SD menjadi siswa SMP di Motoling, Paku Ure, Amurang, Raanan Baru, malahan di Tompaso Baru dan Manado, tetapi banyak yang putus sekolah dan sedikit atau kurang yang meneruskan pendidikan ke sekolah lanjutan tingkat atas dan sekolah tinggi.
Menyadari penyebabnya antara lain:
§  Anak lulusan SD yang berusia 12 atau 13 tahun kebanyak mersa berat meninggalkan orang tuannya menjadi murid SMP di negeri yang jauh dari orang tuannya apalagi yang dimanjakan orang tuannya. Kerinduan kepada orang tua memaksa sering bolos untuk kembali ke kampung, lebih-lebih tempak ia mondok ia diperhadapkan dengan peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan yang tidak pernah dialaminya di rumahnya. Banyak bolos yang menuju ke putus sekolah.
§  Bahwa dalam umur demikian masih sangat diperlukan kontrol langsung dari orang tuanya, lebih-lebih pada jam-jam di luar sekolah. Kebanyakkan mereka lekas terpengaruh oleh lingkunganya yang baru. Jam sekolah menjadi jam bolos, uang SPP menjadi uang pembeli rokok, penganan dan sebagainya. Akhirnya putus sekolah.
Majelis jemaat GMIM berkesimpulan, bahwa untuk mengatasi hambatan-hambatan ini dirasa perlu untuk mendirikan sekolah lanjutan yakni SMP Kristen di Tondei. Ketua Jemaat GMIM Tondei bapak C. Bujung sesuai dengan tugas yang dipercayakan Majelis Jemaat, menghubungi instansi-instansi yang berwenang dan kepala dinas pendidikan dan persekolahan GMIM di Tomohon. Mereka yang dihubungi menyatakan persetujuannya. Kepala kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (depdikbud) kecamatan Motoling, bapak H.F. Sondakh memberikan dorongan, penjelasan demi mempercepat terlaksananya cita-cita ini. Dalam suatu kesempatan sesudah ibadah oleh ketua jemaat dijelaskan kepada jemaat sebab dan tujuan mendirikan SMP Kristen Tondei di tengah-tengah jemaat GMIM Tondei. Sambutan Jemaat sangat menggembirakan. Pada bulan Mei 1982, dibuatlah surat permohonan secara resmi kepada kepala dinas pendidikan dan persekolahan GMIM di Tomohon yang ditandatangani masing-masing oleh Pnt C. Bujung sebagai Ketua Jemaat dan bapak Hendrik Benhard Sondakh sebagai sekretaris jemaat GMIM Tondei. Dan dibawa sendiri ke Tomohon oleh Ketua Jemaat C. Bujung. Sementara itu jemaat sedang giat membangun gedung sekolah. Gedung yang sedang dibangun semua direncanakan untuk TK kini dibangun untuk SMP Kristen dengan ukuran 21x7 m, terdiri atas tiga bilik dengan bentuk permanen.
Pada bulan Agustus 1982 diterima surat keputusan dari kepala dinas pendidikan dan persekolahan GMIM yang bertanggal 30 Juni 1982, no 2430/K/H/V/6-82, antara  lain isinya: terhitung mulai tanggal 1 Juli 1982 di jemaat GMIM Tondei desa Tondei Kecamatan Motoling Dati II Minahasa didirikan atau dibuka sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP) Kristen Tondei.
Datangnya SK ini lebih memperbesar semangat jemaat dalam menyelesaikan pembangunan gedung SMP Kristen dalam bulan Januari 1983 gedung SMP selesai dibangun dan pada bulan Februari, digiatkanlah pembuatan perlengkapan sekolah (meja, kursi dan sebagainya) semua rampung pada bulan April 1983 dan pada bulan berikutnya atas bantuan Pimpinan SMP Kristen Motoling diadakan testing/percobaab bagi calon-calon murid kelas satu SMP Kristen Tondei. Atas usul ketua jemaat GMIM maka kepala Dinas    Persekolahan GMIM mengangkat melalui surat keputusan saudara-saudara:
§  Joppy Sondakh, sebagai kepala SMP Kristen Tondei
§  Herdy Bella, BA., sebagai guru pembantu
§  Djery Tuuk, sebagai guru pembantu 
§  Cyrtje A. C. Bujung, guru pembantu.
Pada tanggal 18 Juli 1983 gedung SMP Kristen Tondei ditahbis dalam suatu ibadat jemaat yang dipimpin oleh ketua sinode GMIM diwakili langsung oleh wakil sekretaris umum sinode GMIM dan pada hari itu juga berdirinya SMP Kristen Tondei diresmikan oleh bapak Kepala kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kakandep dikbud) kecamatan Motoling bapak H. F. Sondakh. Siswa-siswi SMP Kristen yang pertama berjumlah 23 orang. Gaji guru-guru bahkan seluruh pembiayaan SMP ini ditanggung oleh jemaat GMIM. Pada bulan Oktober 1983 jemaat GMIM mulai membangun lagi dua bilik tambahan, satu bilik untuk kantor dan satu bilik untuk perpustakaan SMP Kristen Tondei. Jadi gedung SMP Kristen Tondei sekarang memiliki lima ruangan dengan perincian, tiga ruangan belajar, satu ruang untuk kantor sekolah, dan satu ruang untuk perpustakaan.
Pada akhir bulan Desember 1983, kedua bilik itu sudah selesai. Besarnya gedung menjadi 35x7 meter bentuk permanen. Pembangunan gedung SMP Kristen Tondei sudah menelan biaya sebesar ± 11 juta rupiah, yang swadaya murni jemaat GMIM Tondei. Hingga sekarang sekolah berjalan dengan baik, jumlah guru 7 orang dan jumlah siswa yang terdaftar 31 orang diantaranya ada beberapa siswa dari jemaat Pantekosta.
Pada hari ulang tahun SMP Kristen Tondei yang pertama yaitu pada tanggal 18 Juli 1984 seorang guru pegawai Negeri ditempatkan pada SMP Kristen Tondei. Pada tahun-tahun berikutnya ditempatkan pula beberapa Pegawai Negeri, sehingga pada tahun 1987 jumlah guru Pegawai Negeri menjadi 6 orang.
Karena jemaat GMIM Tondei sebagai pengasuh SMP Kristen Tondei dan guru SMP Kristen Tondei dapat memenuhi beberapa persyaratan, maka pada tanggal 22 Desember 1987 SMP Kristen Tondei diakreditasi menjadi sekolah yang statusnya “diakui”.
Pada tahun 1988, SMP Kristen Tondei sudah dapat melaksanakan kegiatan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) atau Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) sendiri.

v Taman kanak-kanak GPdI “Hana”
Jemaat GPdI telah membangun sebuah gedung Taman Kanak-kanak (TK) pada tahun 1978. Sejak berdirinya, TK Hana telah dipimpin oleh guru-guru yang ditunjuk oleh jemaat setempat. Kini TK tersebut telah mendapat dua orang guru dengan SK pemerintah.

v Sekolah Dasar GPdI
Pada masa gembala Petrus Wowor memimpin Jemaat GPdI Tondei, didirikanlah sebuah gedung sekolah darurat untuk anak-anak jemaat Pantekosta yang mula-mula diberi nama “SD Dikrispa” dan kemudian hari disebut Sekolah Dasar Gereja Pantekosta (SDGP).
Pada tanggal 12 Februari 1968 sekolah itu dibuka. Pada tanggal itu ± 100 orang murid SD GMIM yang berasal dari jemaat Pantekosta meninggalkan SD GMIM dan menjadi murid-murid pertama dari SDGP yang baru didirikan itu. Karena sekolah itu berstatus swasta penuh, maka pengadaan perlengkapan, pengangkatan maupun pembanyaran gaji guru-guru ditanggun oleh jemaat itu sendiri. Dua tahun lamanya jemaat membiayai sekolah itu. Sebagai kepala sekolah SDGP diangkat oleh jemaat Pantekosta saudara N. Pangaila. Nanti pada tahun 1970 ditempatkan di SDGP seorang guru pemerintah sebagai kepala sekolah yakni Almarhum E. Onibala.
Pada mulanya SDGP mempergunakan gedung darurat yang didirkan disamping kanan gedung gereja. Pada tahun 1960 dimulailah pembangunan gedung sekolah di atas sebuah kintal yang disediakan jemaat sebagai kintal sekolah. Gedung itu selesai dibangun pada tahun 1973. pada tanggal 7 November 1973 dalam suatu acara, gedung itu diresmikan oleh bupati KDM Tingkat II Minahasa, Bupati Lumentut (F. Lumentut, Penulis)
Berturut-turut SDGP sudah dipimpin oleh kepala-kepala sekolah:
1.              N. Pangaila (1968-1970) guru yang diangkat oleh jemaat.
2.              E. Onibala (1970-1980) guru pegawai negeri
3.              J. Palapa (1980-1982)
4.              H. Paat (1982-1984)
5.              Ny. S. Lumenta-R (1985-1987)
6.              Punuh (1987-…)
7.              D. Umboh (1987-sekarang)

v SD Negeri Inpres Tondei
Gedung SDN Inpres dibangun pada permulaan tahun 1982. pada tanggal 28 Juli 1982 SDN Inpres itu dibuka dengan resmi oleh Kakandep Dik Bud kecamatan Motoling, Bapak H. F. Sondakh. SD itu mulai dengan kelas 1. kepala sekolah J. Palapa dengan guru pembantu 3 orang.

Itulah catatan tentang sejarah pendirian sekolah-sekolah di Tondei, dan banyak murid di tiap sekolah:
1.                SD GMIM 225 orang
2.                TK GMIM Dorkas Tabita 30 orang
3.                SMP Kristen GMIM 140 orang
4.                SDGP 146 orang
5.                TK GPdI Hana
6.                SDN Inpres 122 orang

Kesenian
Kumpulan-kumpulan kesenian desa ini hanya terdiri dari paduan suara kaum ibu GMIM, Pemuda GMIM dan Kaum Bapa GMIM demikian juga dari jemaat GPdI juga ada vokal grup pemuda GMIM dan pemuda GPdI.
Bahasa Daerah
Penduduk desa Tondei kebanyakan berasal dari dari suku Tontemboan. Hanyalah beberapa yang berasal dari Seretan Tondano. Sekarang ini, akibat perantauan banyak penduduk yang sudah kawin campur dengan suku Sangir (Sangihe), Ambon, Toraja, Bolaang Mongondow,  dan lain-lain.
Taman-Taman
Taman budaya, taman hiburan, taman bunga dan sebagainya belum ada di desa ini. Daerah Lutaw dimana terdapat Lesung Batu yang besar sebagai benda peninggalan purba baik sekali dijadikan taman budaya sebagai objek wisata di kemudian hari.
Permainan Rakyat                                                                                                                                                                   
Permainan rakyat yang masih bertahan hingga sekarang ialah yang disebut “Mareng I Le Le” yang artinya kembalikan pukulan lidi.
Acara permainan ini dilaksanakan oleh suatu tumpukan mapalus (maando) yang dikepalai oleh seorang pemimpin yang disebut ma’bali-wali atau kumeter yang didampingi oleh seorang “marantong” atau “ma’dantong” yang artinya seorang hakim mapalus atau secara kasar disebut sebagai tukang pukul. Mapalus mempunyai peraturan peraturan atau undang undang mapalus yang harus ditaati oleh semua anggota. jika peraturan itu dilanggar maka sipelanggar diancam dengan hukuman badan yakni mendapat cambukan sesuai dengan jenis pelanggaran yang dibuat. Alat cambuk terdiri dari seberkas lidi enau, tiga atau enam lidi diikat menjadi seberkas pelaksana hukum adalah marantong sendiri. Bersama dengan ma’bali-wali, ia menentukan beberapa cambukan yang harus diberikan pada si pelanggar, miaslnya:
1.       Tidak hadir tanpa memberi tahu pada ma’bali wali dicambuk 9 kali.
2.                Terlambat tiba di tempat pekerjaan dicambuk 6 kali.
3.                Bekerja lamban dicambuk 2 kali.
4.                Mengucapkan kata kata tak sopan dicambuk 6 kali.
5.                Koki yang terlambat menyediakan makanan dicambuk 3 kali.
6.       Tidak membantu kawan yang lemah dalam barisan kerja dicambuk 1 kali.
7.       Tidak turut atau bermain sementara doa makan dicambuk 6 kali.
Sasaran cambukan adalah betis atau bagian belakang badan. Cara memilih ma’bali wali dan marantong kebanyakan secara aklamasi (ditujuk). Tugas ma’bali wali memimpin dan menjalankan roda organisasi mapalus itu. Ia adalah penanggung jawab kedalam dan keluar. Sebelum mapalus menjalankan tugasnya, si marantong atau hakim mapalus dinobatkan terlebih dahulu. Cara penobatan adalah sebagai berikut: Si Marantong berdiri di tengah lingkaran mapalus, cambuk yang terdiri dari 6 lidi enau disediakan. Setelah sebuah pidato singkat diperdengarkan, ma’bali wali memegang cambuk lalu memukulkannya 3 kali berturut-turut ke betis marantong. Kemudian tibalah giliran seluruh anggota mapalus. Secara bergilir mereka mencambuk betis marantong seberapa mereka mau. Selesai acara ini celana si marantong koyak-koyak, betisnya berdarah dan bengkak. Penobatan secara ini dimaksudkan agar ia dalam menjalankan tugasnya akan bertindak tegas dan tanpa memandang bulu. Dengan cangkul dan cambuk di tangan dan sambil bekerja ia mengawasi seluruh mapalus itu dan sewaktu-waktu membagi-bagikan cambuk kepada mereka yang melanggar disiplin mapalus. Demikian kerjanya hingga seluruh anggota mapalus telah mendapat sumbangan tenaga mapalus itu. Sebelum mapalus dibubarkan maka diadakanlah suatu acara yang merupakan acara penutup kegiatan organisasi mapalus itu. Maka ditentukanlah suatu hari pada waktu mana cara itu akan diadakan. Semua anggota menyediakan penganan dan air panas teh atau kopi, untuk melayani mereka yang akan diundang menghadiri acara itu.
Ditentukan pula di lokasi mana acara penutup ini diadakan. Daerah yang banyak kali dipakaiilah kampung liba. Sebab jalannya lebar dan rata. Banyak kali dalam acara ini diundang pimpinan jemaat dan kepala desa. Berduyun-duyun orang menuju ke lokasi yang sudah ditentukan. Semua ingin menyaksikan permainan ini. Anggota-anggota mapalus berbaris berhdapan. Berdiri di tepi-tepi jalan. Kebanyakkan anggota mapalus pria membungkus betisnya dengan kain tebal. Demikian pula si marantong. Semua anggota mapalus, baik pria maupun wanita memegang seberkas lidi enau. Sebelum cara dimulai ma’baliwali (pemimpin) mengumumkan aturan permainan. Si marantong harus berlari bolak balik dari ujum barisan ke uung barisan yang lain. Tiap kali ia meliwati anggota mapalus yang berdiri dalam barisan, ia menreima cambukan dari kiri dan kanannya sebaba iba menghindari cambukan dengan berlari cepat. Cambukan-cambukan yang diberikan padanya disebut “mareng I lele” (kembalikan lidi) maksudnya, kalau pada waktu mapalus si marantong banyak memberik cambukan kepada anggota-anggotanya, sekarang pukulan-pukulan itu dikembalikan kepadanya. Permaianan mareng I lele betujuan menghilangkan rasa dendam ia harus berlari hilir mudik higga semua berkas lidi yang dicambukkan kepadanya rusak atau musnah semuanya. Oleh karena betisnya dibungkus dengan kain tebal maka cambukan-cambukan itu tidak sampai melukakan. Sesudah marantong menerima bagianya tibalah giliran anggota-anggota saling bercambukan.
Permainan ini ditutup dengan makan minum bersama yang disediakan oleh tiap-tiap anggota mapalus itu. Sekarang jenis permainan ini sudah jarang dilaksanakan orang. Jenis permainan inilain seperti bola kaki, bulu tangkis dan sebagainya juga sangat digemari orang banyak.


Proyek-Proyek Pembangunan
Salah satu usaha pemerintah desa untuk memajukan pertanian ialah membuat kebun percontohan sebagai proyek Latihan bagi masyarakt petani Tondei. Kebun itu dibuka pada bulan Juli 1984 di bawah bimbingan tenaga-tenaga akhli dasri BLPP (Balai Latihan Pegawai Pertanian) Kalasey Manado. Pemerintah desa Tondei boleh mengirim beberapa orang ke BLPP Kalasey untuk dilatih dalam mengolah tanah, cara memakai pupuk dan sebagainya. Selesai latihan mereka kembai ke Tondei untuk membimbing para petani dengan kebun percontohan sebagai arena latihan. Hasil tanaman kebun percontohan dapat dijual untuk dana pembangunan desa.
Dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemerintah desa berdaya upaya agar Proyek Air Minum dapat selesai dalam tahun ini juga. Pipa-pipa dari berbagai ukuran dibeli di Manado dan sebagainya telah dipasang, sumber air terletak kurang lebih 1 km di sebelah timur desa. Walaupun baru 60 % selesai tetapi sebagian rakyat Tondei sudah dapat mempergunakan air ledeng tersebut.
Demikian proyek-proyek pembangunan yang sedang dihadapi masyarakat Tondei sekarang ini.




















Bagian 7
PENUTUP

esa Tondei yang terletak di tengah tengah ribuan pohon nyiur dan cengkih serta aren merupakan desa yang berpotensi ekonomi pertanian. Ratusan ton kopra dan puluhan ton cengkih dihasilkan desa Tondei, namun masalah yang dihadapi desa ini adalah sarana transportasi . Ruas jalan Tondei Motoling sepanjang 14 km sebagian besar tidak dialas batu sehingga jika musim penghujan tiba, jalannya sangat sulit dilalui oleh kendaraan, bahkan roda sapi pun sangat kesulitan untuk melalui jalan tersebut terutama ruas jalan antara Tondei Raanan Baru. Masyarakat berharap, jalan ini mendapat perhatian pemerintah.
***

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda